Saturday, July 8, 2017

Materi 6 "Ibu Manager Handal Keluarga"

*IBU MANAJER HANDAL KELUARGA*

*Motivasi Bekerja Ibu*

Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan Ibu Bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja yang _wajib professional_ menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.
Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu

kita harus "SELESAI" dengan management rumah tangga kita

Kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga anda yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih professional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang Ibu Bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.


Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja ?

🍀Apakah masih ASAL KERJA, menggugurkan kewajiban saja?

🍀Apakah didasari sebuah KOMPETISI sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/ keluarga lain?


🍀Apakah karena PANGGILAN HATI sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai Khalifah?


Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita
.
🍀Kalau anda masih "ASAL KERJA" maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, anda menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.


🍀Kalau anda didasari "KOMPETISI", maka yang terjadi anda stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses


🍀Kalau anda bekerja karena "PANGGILAN HATI" , maka yang terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa MENGELUH.

Ibu Manajer Keluarga

Peran Ibu sejatinya adalah *seorang manager keluarga, maka masukkan dulu di pikiran kita*

*Saya Manager Keluarga*

kemudian bersikaplah, berpikirlah selayaknya seorang manager.

🍀Hargai diri anda sebagai manager keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas anda sebagai manager keluarga.

🍀Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kejakan baik di rumah maupun di ranah publik, patuhi


🍀Buatlah skala prioritas

🍀Bangun Komitmen dan konsistensi anda dalam menjalankannya.


Menangani Kompleksitas Tantangan

Semua ibu, pasti akan mengalami kompleksitas tantangan, baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka ada beberapa hal yang perlu kita praktekkan yaitu :

a. PUT FIRST THINGS FIRST

Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. - Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas anda hari ini - aktifkan fitur gadget anda sebagai organizer dan reminder kegiatan kita.


b.ONE BITE AT A TIME

Apakah itu one bite at a time?
-Lakukan setahap demi setahap -Lakukan sekarang -Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan

c. DELEGATING

Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita.

_ingat anda adalah manager, bukan menyerahkan begitu saja tugas anda ke orang lain, tapi anda buat panduannya, anda latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan anda_

*Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latihlagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi begitu seterusnya*

Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka kalau anda memiliki pilihan untuk urusan delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah *pilihan paling akhir*.

Perkembangan Peran

Kadang ada pertanyaan, sudah berapa lama jadi ibu? Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan. Tetapi mengapa tidak? Karena selama ini kita masih

SEKEDAR MENJADI IBU

Ada beberapa hal yang bisa bunda lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas bunda agar tidak sekedar menjadi ibu lagi, antara lain:

🍀Mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang.

Maka tingkatkan ilmu di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi "manajer keuangan keluarga.


🍀Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak.Sudah itu saja, hal ini membuat kita jenuh di dapur.

Mari kita cari ilmu tentang manajer gizi keluarga, dan terjadilah perubahan peran.


🍀Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu –ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah.

Mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran saya menjadi "manajer pendidikan anak".

Anak-anakpun semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal.


🍀Cari peran apalagi, tingkatkan lagi…..dst

Jangan sampai kita terbelenggu dengan rutinitas baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun.

Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi. Meskipun anda sudah menjalankan peran selama 10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.

Hanya ada satu kata

BERUBAH atau KALAH

Salam Ibu Profesional,


/Tim Matrikulasi IIP/


SUMBER BACAAN:

Institut Ibu Profesional, Bunda Cekatan, sebuah antologi perkuliahan IIP, 2015

Hasil diskusi Nice Homework Matrikulasi IIP Batch #4, 2017

Irawati Istadi, Bunda Manajer Keluarga, halaman featuring, Success Mom's Story: Zainab Yusuf As'ari, Amelia Naim, Septi Peni, Astri Ivo, Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati,Fifi Aleyda Yahya, Oke Hatta Rajasa, Yoyoh Yusroh, Jackie Ambadar, Saraswati Chasanah, Oma Ary Ginanjar, Pustaka Inti, 2009

Disimpan oleh,
Miraa Nihlaa Hilaby

Materi 5 "Belajar bagaimana caranya belajar"

📝BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR📝

Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar,
Bagaimana sudah makin mantap dengan jurusan ilmu yang dipilih? kalau sudah, sekarang mari kita belajar bagaimana caranya belajar. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk lebih membumikan kurikulum yang teman-teman buat. Sehingga ketika teman-teman membuat kurikulum unik (customized curriculum) untuk anak-anak, makin bisa menerjemahkan secara setahap demi setahap karena kita sudah melakukannya. Inilah tujuan kita belajar.

Sebagaimana yang sudah kita pelajari di materi sebelumnya, bahwa semua manusia memiliki fitrah belajar sejak lahir. Tetapi mengapa sekarang ada orang yg senang belajar dan ada yang tidak suka belajar.

Suatu pelajaran yang menurut kita berat jika dilakukan dengan senang hati maka pelajaran yang berat itu akan terasa ringan, dan sebaliknya pelajaran yang ringan atau mudah jika dilakukan dengan terpaksa maka akan terasa berat atau sulit.

Jadi suka atau tidaknya kita pada suatu pelajaran itu bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pelajaran. Lebih kepada rasa.
*_Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan_*

Melihat perkembangan dunia yang semakin canggih dapat kita rasakan bahwa dunia sudah berubah dan dunia masih terus berubah.

Perubahan ini semakin hari semakin cepat sekali.
Anak kita sudah tentu akan hidup di jaman yang berbeda dengan jaman kita. Maka teruslah mengupdate diri, agar kita tidak membawa anak kita mundur beberapa langkah dari jamannya.

Apa yang perlu kita persiapkan untuk kita dan anak kita ?

Kita dan anak-anak perlu belajar tiga hal :
1⃣Belajar hal berbeda

2⃣ Cara belajar yang berbeda
3⃣Semangat Belajar yang berbeda

🍀 *Belajar Hal Berbeda*
Apa saja yang perlu di pelajari ?
yaitu dengan belajar apa saja yang bisa:
🍎Menguatkan Iman,

ini adalah dasar yang amat penting bagi anak-anak kita untuk meraih masa depannya
🍎Menumbuhkan karakter yang baik.
🍎Menemukan passionnya (panggilan hatinya)

*Cara Belajar Berbeda*
Jika dulu kita dilatih untuk terampil menjawab, maka latihlah anak kita untuk terampil bertanya Keterampilan bertanya ini akan dapat membangun kreatifitas anak dan pemahaman terhadap diri dan dunianya.

Kita dapat menggunakan jari tangan kita sebagai salah satu cara untuk melatih keterampilan anak2 kita untuk bertanya.
Misalnya :
👍Ibu jari : How
👆Jari telunjuk : Where
✋Jari tengah : What
✋Jari manis : When
✋Jari kelingking : Who
👐Kedua telapak tangan di buka : Why
👏Tangan kanan kemudian diikuti tangan kiri di buka : Which one.

Jika dulu kita hanya menghafal materi, maka sekarang ajak anak kita untuk mengembangkan struktur berfikir. Anak tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi perlu juga dilatih untuk mengembangkan struktur berfikirnya

Jika dulu kita hanya pasif mendengarkan, maka latih anak kita dg aktif mencari. Untuk mendapatkan informasi tidak sulit hanya butuh kemauan saja.

Jika dulu kita hanya menelan informasi dr guru bulat-bulat, maka ajarkan anak untuk berpikir skeptik
_Apa itu berpikir skeptik ?_
Berpikir Skeptik yaitu tidak sekedar menelan informasi yang didapat bulat-bulat. Akan tetapi senantiasa mengkroscek kembali kebenarannya dengan melihat sumber-sumber yang lebih valid.

*Semangat Belajar Yang berbeda*
Semangat belajar yang perlu ditumbuhkan pada anak kita adalah :

🍀Tidak hanya sekedar mengejar nilai rapor akan tetapi memahami subjek atau topik belajarnya.
🍀Tidak sekedar meraih ijazah/gelar tapi kita ingin meraih sebuah tujuan atau cita-cita.

Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas maka pada saat berada ditempat pendidikan kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan. Maka pada akhirnya kita tidak sekedar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu).

Yang harus dipahami,
*_Menuntut Ilmu bukan hanya saat sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita_*

Bagaimanakah dengan Strategi Belajarnya?

• Strategi belajar nya adalah dengan menggunakan
*_Strategi Meninggikan Gunung bukan meratakan lembah_*

Maksudnya adalah dengan menggali kesukaan, hobby, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal2 yg mereka minati dan kita sebagai orangtuanya mensupportnya semaksimal mungkin.

Misalnya jika anak suka bola maka mendorongnya dengan memasukkannya pada club bola, maka dengan sendirinya anak akan melakukan proses belajar dengan gembira.

🚫 *_Sebaliknya jangan meratakan lembah_*
yaitu dengan menutupi kekurangannya,
Misalnya apabila anak kita tidak pandai matematika justru kita berusaha menjadikannya untuk menjadi pandai matematika dengan menambah porsi belajar matematikanya lebih sering (memberi les misalnya).

Ini akan menjadikan anak menjadi semakin stress.

Jadi ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan / kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira.

Orang tua tidak perlu lagi mengajar atau menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.

Bagaimanakah membuat anak menjadi anak yang suka belajar ?

Caranya adalah :
1⃣ Mengetahui apa yang anak-anak mau / minati
2⃣Mengetahui tujuannya, cita-citanya
3⃣Mengetahui passionnya

Jika sudah mengerjakan itu semua maka anak kita akan meninggikan gunungnya dan akan melakukannya dengan senang hati.

*_Good is not enough anymore we have to be different_*

Baik saja itu tidak cukup,tetapi kita juga harus punya nilai lebih (yang membedakan kita dengan orang lain).

Peran kita sebagai orang tua :
👨‍👩‍👧‍👧Sebaga pemandu : usia 0-8 tahun.
👨‍👩‍👧‍👧Sebagai teman bermain anak-anak kita : usia 9-16 tahun.
kalau tidak maka anak-anak akan menjauhi kita dan anak akan lebih dekat/percaya dengan temannya
👨‍👩‍👧‍👧sebagai sahabat yang siap mendengarkan anak-anak kita : usia 17 tahun keatas.

Cara mengetahui passion anak adalah :
1⃣ _Observation_ ( pengamatan)
2⃣ _engage_(terlibat)
3⃣ _watch and listen_ ( lihat dan dengarkan suara anak)

Perbanyak ragam kegiatan anak, olah raga, seni dan lain-lain.
Belajar untuk telaten mengamati, dengan melihat dan mencermati terhadap hal-hal yang disukai anak kita dan apakah konsisten dari waktu ke waktu.

Diajak diskusi tentang kesenangan anak, kalau memang suka maka kita dorong.

Cara mengolah kemampuan berfikir Anak dengan :

1⃣Melatih anak untuk belajar bertanya,
Caranya: dengan menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai suatu obyek.
2⃣Belajar menuliskan hasil pengamatannya Belajar untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya
3⃣Presentasi yaitu mengungkapkan akan apa yang telah didapatkan/dipelajari
4⃣Kemampuan berfikir pada balita bisa ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak.
Selamat belajar dan menjadi teman belajar anak-anak kita,

Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber bacaan :
_Dodik Mariyanto, Learning How to Learn, materi workshop, 2014_
_Joseph D Novak, Learning how to learn, e book, 2009_

Disimpan oleh,
Miraa Nihlaa

Materi 4 "Mendidik dengan Kekuatan Fitrah"

🌱#MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH*🌱

Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi. Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan *_DIRI ANDA SENDIRI_*

Apakah mudah? TIDAK. Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa "galau".

Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa"misi hidup" kita sebagai individu dan apa "misi keluarga" kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.

Check List harian sudah anda buat dengan rapi di Nice Homework#2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati di Nice Homework #3. Bagi yg sudah menemukan misi hidup dan misi keluarga, Misi tersebut sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi anda biarkan jadi pajangan saja. Maka "tsunami informasilah" yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada "kemampuan fitrah" kita dalam mendidik anak-anak.

" *Just DO It*",

_lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita_.

Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada _Apa yang harus dipelajari anak-anak kita_, bukan pada _Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut_ Sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya.

Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu
PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH
Tahap yang harus anda jalankan adalah sbb:
a.Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.
b. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidaka kan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.
c. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dll.
d. Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia. Analogkan diri anda dengan seorang petani organik.
e. Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses.

Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.
f. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.
g. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda *very limited special edition*

Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri.
Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.

Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya.
Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Sumber bacaan :
_Irawati Istadi, Mendidik dengan Cinta, Jogjakarta, 2013_
_Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016_
_Antologi, Komunitas Ibu Profesional, Bunda Sayang, Surakarta, 2014_
_Materi Matrikulasi sesi #3, Membangun Peradaban dari Dalam Rumah, 2016_

Disimpan oleh,
Miraa Nihlaa Hilaby

Sunday, June 18, 2017

NHW 5 : Learning How to Learn

📝 *BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR*📝 (Learning How to Learn)

Astaghfirullah, aku kali ini telat mengerjakan peer NhW nya.
Karena kebanyakan mikirnya tapi ga dikerjain nyicil. Terus minggu ini kebanyakan keluar rumahnya. 😅

Yasudahlah yaa. Mari kita tetap kerjakan dan kumpulkan. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?

Hasil searching di mbah google, ku temukan pengertian dasarnya.

Desain pembelajaran adalah praktik penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik.
Sumber :
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Desain_pembelajaran


Nah dari sini jika boleh ku break down akan mendapatkan beberapa tahapan, yaitu :
1. Menyusun media komunikasi sebagai sarana belajar
2. Memanfaatkan teknologi sebagai alat komunikasi pembelajaran
3. Menyampaikan ilmu kepada diri sendiri (guru) dan anak (murid)

Kemudian mari kita detailkan agar dapat diaplikasikan dalam pengajaran di kehidupan kita (antara orangtua dan anak), menjadi :
1. Menyusun media komunikasi sebagai sarana belajar
✏️komunikasi verbal dan non verbal seperti :
🔹komunikasi langsung dua arah
🔹melalui Hp, TV, laptop, PC, dll
🔹bercerita
🔹berdongeng
🔹membaca buku
🔹bermain sambil belajar
🔹bermain di outdoor
🔹melihat hikmah dari yang terjadi disekitar
🔹dll

2. Memanfaatkan teknologi sebagai alat komunikasi pembelajaran.
✏️berupa :
🔹pemanfaatan gadget secara maksimal
🔹belajar melalui youtube
🔹belajar secara offline (mewarnai, bermain puzzle, bermain petak umpet, dll)
🔹belajar melalui tv, diisi dengan film islami. Tentu saja dengan waktu terbatas dan dalam pengawasan orangtua

3. Menyampaikan ilmu kepada diri sendiri (guru) dan anak (murid)
✏️nah dengan penerapan 2 point diatas, maka hasil yang dicapai insyaaAllah adalah berupa penyampaian ilmu kepada anak.

Setelah poin ini berhasil, selanjutnya adalah di analisa sejauh apa poin keberhasilannya dari yang telah dilakukan kemudian dievaluasi apa yang kurang, mana yg perlu diperbaiki dan mana yang perlu dikurangi.


Semoga ini menjadi pembelajaran buat saya dan anak-anak saya. Aamiin

Do what do you think is right, with GOD Guide Ways. #quotebyme

Dicermati dan ditulis oleh,

Miraa Nihlaa Hilaby

Saturday, June 10, 2017

NHW#4

MasyaaAllah untuk mengerjakan peer kali ini. Ga selesai mikirinnya cuma sehari, meski sampe harinya dateline tetap bingung bikinnya.

Ya sudahlah ya.. Bismillah aja, yuk kita kerjain.. Semangat 😉

a. InsyaaAllah saya masih tetap memilih jurusan ilmu yang saya pilih di universitas kehidupan ini. Yaitu ilmu meraih surga. Karena yang tergiang-ngiang dikepala saya, yang saat ini perlu dipelajari terlebih dahulu adalah ilmu belajar mengendalikan emosi yang insyaaAllah kedepannya adalah untuk mendampingi pembelajaran anak-anak saya dengan emosi yg dapat dikendalikan.

b. Belum 100% menjalani checklist yang telah saya buat. Tetapi point untuk anak, alhamdulillah sudah 75% berjalan.

Memang dari dulu masalah dengan diri sendiri adalah susah konsisten. Bismillah mau belajar konsisten lagi. Seperti kata mba sukeng, jalanai 1 point dulu. Fokus, kerjakan secara istiqomah. Jika sudah 30 hari baru tambahkan poin lain

C. Sesungguh saya masih belum memahami sepenuhnya apa misi hidup saya didunia ini. Selain sebagai hamba Allah dan beribadah kepadaNya. Tapi yang pasti, saya merasa senang, tenang, dan berarti. Ketika saya bisa bermanfaat untuk orang lain.

Ketika saya bisa berkontribusi pada sebuah wadah/suatu komunitas, saya merasa itu adalah jalan saya untuk aktualisasi diri.

Setelah menelaah kembali nhw#3 dan contoh untuk mengerjakan poin ini. Jadi tercerahkan sedikit. Sepertinya peran besar hidup saya adalah sebagai fasilitator. Berbagi apa yang dipunya dan dirasa.
✏️Misi hidup saya : bermanfaat untuk orang lain

✏️Bidangnya : parenting
Kenapa bidang ini yang saya pilih. Karena saya melihat disekeliling saya banyak ibu baru yang tidak/belum memiliki ilmu untuk mendidik anak-anaknya. Cenderung menyerahkan kepada pihak sekolah, guru ngaji, baby sitter atau bahkan mungkin kepada nenek/kakeknya.

Serta masih banyak yang mendidik dengan kekerasan, karena ketidaktahuan dan atau ketidakmampuannya mengendalikan emosi.

Terbesit obrolan suami waktu yang lalu kepada saya, karena keminiman ilmu kami dalam bidang ini, beliau ingin membuat sebuah komunitas atau wadah agar bisa kontinue membuat kajian parenting yang membahas detail dan urut, tentang parenting keluarga yang sesuai syariah. Hal ini tercetus jauh sebelum saya ikuti IIP.

✏️Maka dari ini bisa saya simpulkan peran saya adalah sebagai fasilitator.

Apakah ini menjadi jalan kami? Wallahu'alam. Bismillah

D. Karena misi hidup sya adalah bermanfaat untuk orang lain dengan cara menjadi fasilitator.

Maka ilmu yang perlu disiapkan adalah :
H5S, yaitu
📌Handal : ilmu menjadi fasilitator
📌Sekufu : ilmu dasar pra nikah (bagaimana mencari pasangan, persiapan diri, dll)
📌Sejalan : ilmu dasar awal pernikahan
(Penyamaan visi misi keluarga,dll)
📌Seirama : ilmu manajemen konflik
📌Sayang anak : ilmu pengasuhan anak
📌Sayang keluarga : ilmu manajemen keluarga

d. KM 0 saya tetapkan pada usia saya 34 tahun. Karena beberapa hari lagi hari lahir saya.

Sehingga Milestone saya seperti ini :
📊KM 0 – KM 1 ( tahun 1 ) :
Menguasai Ilmu Handal dan Sekufu
📊KM 1 – KM 2 (tahun 2 ) : Menguasai Ilmu Sejalan dan Seirama
📊KM 2 – KM 3 (tahun 3 ) :
Menguasai Ilmu Sayang Anak
📊KM 3 – KM 4 ( tahun 4) :
Menguasai Ilmu Sayang Keluarga

Saya akan memulai pelajari ilmu-ilmu tersebut dari kajian, internet, pelatihan, IIP, dll.
InsyaaAllah semua yang saya pelajari akan saya tulis dan simpan diblog saya. Sehingga secara tidak langsung sudah bisa berbagi.

e. Ahh... Saya belum masukkan waktu mempelajari ilmu-ilmu tersebut ke checklist di NHW#2. Hanya secara tersirat ada beberapa yang sudah tertulis. Hiks.. Mari kita koreksi..

Bismillah. Semoga Allah meridhoi setiap langkah kita.

Lakukan sedikit, tetapi rutin. Daripada banyak tetapi hanya sesaat.

Ditulis dan dicermati oleh,

Miraa Nihlaa Hilaby

Saturday, June 3, 2017

Materi 3 "Peradaban dari dalam rumah"

Resume Materi Sesi #3
PERADABAN DARI DALAM RUMAH


Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional



👨👩MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH👨👩

" Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya "

Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.

Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.

Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan " misi spesifiknya ", tugas kita memahami kehendakNya.

Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya " peran spesifik keluarga" kita di muka bumi ini.

Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.
Darimana kita harus memulainya?

🙋 PRA NIKAH
Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:
a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?
b. Adakah yang membuat anda bahagia?
c. Adakah yang membuat anda "sakit hati/dendam' sampai sekarang?
d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?

Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan.
Tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.
Karena,
ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK

👨👩👧👧 NIKAH
Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:
🍀Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih "dia" menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?

🍀Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?

🍀Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?

🍀Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?

Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki " misi pernikahan" sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.

👩👧👧 ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)
Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.
a. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?
b. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?
c. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?

Setelah ketiga pertanyaan tambahan di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.
Karena, IT TAKES A VILLAGE TO RAISE A CHILD
Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak

Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya.

Karena Orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang

Tahap berikutnya nanti kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.

Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan

Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.

Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/

SUMBER BACAAN
Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015
Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016

Disimpan oleh,

Miraa Nihlaa Hilaby

Tugas NHW#3

Bismillah, menjadi seorang ibu ternyata tidak mudah, tidak seperti air yang menjalani takdirnya mengalir kemanapun.

Menjadi ibu perlu usaha ekstra untuk terus belajar dan menimba ilmu. Karena ibu adalah langkah awal membangun peradaban.

a. Ah.. Kali ini peernya membuat surat cinta untuk sayang ku (baca : suami). Awal nulis bingung mau nulis apa. Sampai akhirnya lancar menulisnya hingga berderai air mata.
Ternyata harus banyak minta maaf diri ini sama suami 😔

Surat cintaku tertulis dalam 4 halaman di kertas berukuran A5. Lalu ku masukkan ke dalam amplop buatan sendiri ☺️

Ku letakkan surat tersebut dekat di handphonenya. Lalu ku tinggal bermain dengan anakku. Tak lama dibacanya surat tersebut lalu ia menghampiri diriku dan berkata, "ini pasti peer IIP". Gubrak.. "iya, tapi aku nulisnya pake hati sambil nangis pula." Sambil berurai airmata ku menjawabnya.

Ia langsung menghampiri diriku, langsung memeluk dan menghujani wajahku dengan ciuman mesra seraya berkata "i love you". Bahkan sesaat setelah itu, anakku menangis. Suami langsung beranjak untuk menenangkannya. Alhamdulillah, ku bisa melihat matanya berbinar dan wajahnya secerah langit setelah ada pelangi. "Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

b.hihihi.. Harus kembali menuliskan tentang anak. Anakku bernama Nazhiif Atya Abdurrahman, saat ku mengerjakan peer ini tepat h-5 menuju hari lahirnya. InsyaaAllah tanggal 7 juni nanti ia berumur 1 tahun. Bayi yang akan memasuki usia balita.

Alhamdulillah, sesuai pengamatanku sebagai ibunya (mungkin tidak obyektif). Ia anak yang cerdas, suka penasaran dengan hal-hal yang baru dilihatnya. Ia suka bermain, dna ia juga mudah bosan. Nah karena ia mudah bosan itu membuat dia kreatif bermain dengan apa yang ada disekelilingnya. Seperti bermain dengan name tag tanda panitia umminya 😅

Ia anak yang tidak mudah menyerah. Selama ia belum berhasil, ia akan terus berusaha melakukannya. Ia suka bercanda, ia sangat suka berceloteh. Sepertinya ummi harus bersiap ketika ia bisa bicara. ☺️

Karena ia masih bayi yang beranjak menjadi balita, insyaaAllah ia akan terus tumbuh dan berkembang dengan potensi yang Allah berikan. Tugas ummi sama ayah adalah bersyukur dan bantu nazhiif mengembangkan potensinya.

Calon adiknya masih diperut, berusia 5,5 bulan. Semoga sehat hingga lahiran nanti. Aamiin

c. Aku dilahirkan dalam keluarga arab yang kental aturannya dengan banyak larangan, terutama untuk anak perempuan. Dulu suka merasa marah kenapa kami dibedakan. Tapi setelah kedua orangtua ku tiada. Justru terasa sekali manfaat dari aturan yang mereka terapkan untuk kami.

Ku menyadari ternyata didikan mereka adalah untuk menyiapkan ku menjadi wanita yang kuat, yang mandiri dan tidak takut dengan kehidupan yang penuh dengan intrik.

Menjadikan ku seorang yang sabar menjalani hidup yang ditakdirkan oleh Allah.

Ketika ku menjalani kehidupan pernikahan, memasuki tahun pertama ku menyadari bahwa keberadaan diri ini menjadi pendamping suamiku adalah untuk menguatkannya menjalani amanah sebagai seorang suami.

Memasuki tahun kedua pernikahan, kami pernah bertengkar hebat. Disini juga ku menyadari mengapa Allah menciptakan aku menjadi kuat melalui didikan orangtua ku, karena agar ku tidak menyerah ditengah jalan karena badai ini.

Alhamdulillah ala kullihal. Diri ini yang mudah memaafkan, tidak suka menyimpan dendam serta sabar adalah modal menjalani bahtera rumah tangga.

Bahkan saat ini ku juga sedang belajar kembali arti sabar, karena aku sedang menemani pertumbuhan dan perkembangan bayiku.

d. Tantangan yang saya hadapi disekeliling saya saat ini adalah untuk terus bersilaturahmi dengan keluarga besar orangtua juga mertua. Karena orangtua ku sudah tiada. Sehingga membutuhkan waktu dan kemauan ekstra untuk menjaga silaturahmi ini.

Juga menjadi tantangan tersendiri untuk tetap bisa berkontribusi untuk agama ku meski itu kecil. Ah, mungkin tidak layak disebut kontribusi untuk dakwah. Masih terlalu hina rasanya diri ini.

Kami (aku dan suami), alhamdulillah tergabung dalam komunitas yang sama. Komunitas yang memiliki tag line "berbagi hidangan dari Ar-Rahman". Jadi tugas utama komunitas ini adalah berbagi makanan terutama dibulan ramadhan seperti ini berbagi takjil dititik-titik kemacetan.

Nah rasa berbagi ini yang tidak bisa ku gambarkan dengan kata-kata. Tapi insyaaAllah rasa ini menjadi semangat kami untuk terus berbagi dengan sesama. Apapun objeknya, komunitasnya dan dimanapun kami berada. Semoga Allah meridhoi, aamiin.

Tugas ini dikerjakan dengan seksama dan dituliskan oleh

Miraa Nihlaa Hilaby

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...